I own that treasure once
Buried deep inside this numb soul
Crawling over doors of dark blue
and warm eyes
that used to be yours
and mine
Frankly, honey..
It dissapeared
Right under the gold eclipse
In front of this brown lashes
Shred this tears
Shiny pearls that drop
become crystal patterns
beneath the cracked stone
There's nothing more or less
I'll just seek for the wings in your mind
And depth of your eyes
where i hide most precious heart and pride
Now every effort's useless
I'll take what i deserve
Larut malam dalam kamar yg beku.
Prada.
Senin. 9 Maret 2010.
Selasa, 09 Maret 2010
Siapa yang Salah?
"Air laut naik...!!
Lari...!!"
Pekik membahana
Sang pujangga menjerit putus asa
Tirai dipancang
Gendang ditabuh terlantung-lantung
Napas basahnya memburu
Mengundang perangah
Wajah-wajah pilu penasaran
Dan tangis bercucuran
Di sudut gelap penonton sontak terdengar
Sayup lamat-lamat kencang
Pemuda berambut legam
Memaki-maki
Tertawa jahat seperti kesetanan
Mengejek
Mengundang gelak segerombol kacung
berotak udang
"Ada tsunami...!!! Lari...!!!"
Ejeknya semakin giat
Tawanya semakin pekat
Menirukan suara nasar pencatuk belikat
Pertunjukan yang sungguh dahsyat
Pujangga bingung
Ini tanah tempat lahir mereka
Bahasa bumi mereka
Apa semua petaka,
hanyalah gurauan hina?
Lalu siapa yang salah?
(mengingat peristiwa memprihatinkan, saat menonton sebuah konser lelang lagu Aceh mengenang Tsunami)
Putty W. (masih) mahasiswi FK Unsyiah '06.
Prada. Rabu, 3 Maret 2010.
Lari...!!"
Pekik membahana
Sang pujangga menjerit putus asa
Tirai dipancang
Gendang ditabuh terlantung-lantung
Napas basahnya memburu
Mengundang perangah
Wajah-wajah pilu penasaran
Dan tangis bercucuran
Di sudut gelap penonton sontak terdengar
Sayup lamat-lamat kencang
Pemuda berambut legam
Memaki-maki
Tertawa jahat seperti kesetanan
Mengejek
Mengundang gelak segerombol kacung
berotak udang
"Ada tsunami...!!! Lari...!!!"
Ejeknya semakin giat
Tawanya semakin pekat
Menirukan suara nasar pencatuk belikat
Pertunjukan yang sungguh dahsyat
Pujangga bingung
Ini tanah tempat lahir mereka
Bahasa bumi mereka
Apa semua petaka,
hanyalah gurauan hina?
Lalu siapa yang salah?
(mengingat peristiwa memprihatinkan, saat menonton sebuah konser lelang lagu Aceh mengenang Tsunami)
Putty W. (masih) mahasiswi FK Unsyiah '06.
Prada. Rabu, 3 Maret 2010.
Bebas
Bebaskan!
Bebaskan dirimu!
Bebas lepas
Melayang-liuk anggun
Dalam riak air lincah
Melewati bebatuan
Terjun deras
Bebas lepas
Terbang tinggi
Riuh rendah
Meloncat dan memeluk awan
Menantang raja pagi
Bebas lepas
Berlari berpeluh sejauh siluet
Mendaki terjal ngarai
Meloncati patahan lava
Jelajahi padang berombak
Bebas!
Bebaskan dirimu!
Sebebas lepasnya jiwa merdeka
Prada.
Rabu, 3 Maret 2010.
Bebaskan dirimu!
Bebas lepas
Melayang-liuk anggun
Dalam riak air lincah
Melewati bebatuan
Terjun deras
Bebas lepas
Terbang tinggi
Riuh rendah
Meloncat dan memeluk awan
Menantang raja pagi
Bebas lepas
Berlari berpeluh sejauh siluet
Mendaki terjal ngarai
Meloncati patahan lava
Jelajahi padang berombak
Bebas!
Bebaskan dirimu!
Sebebas lepasnya jiwa merdeka
Prada.
Rabu, 3 Maret 2010.
Romansa Biru
Ketika kelak mereka bertemu
Malam biru pun tak lagi kelabu
Tak ada sayap luka
Tak ada kesendirian lunta
Hanya menari di atas atap naungan purnama
Pula dengan gaun merah bata
Tak kan dibiarkan ia terlunta di atas untaian kata
Memandang dengan mata melata
Dalam sendu, senyap di malam renta
Sang jelita ingin ia ikut berdansa
Mengenakan tuksedo bersepuh permata
Mari mereguk cawan cinta, kekasih.
Mari.
Cinta tak pernah buta.
Prada.
Malam minggu, 27 Februari 2010
Malam biru pun tak lagi kelabu
Tak ada sayap luka
Tak ada kesendirian lunta
Hanya menari di atas atap naungan purnama
Pula dengan gaun merah bata
Tak kan dibiarkan ia terlunta di atas untaian kata
Memandang dengan mata melata
Dalam sendu, senyap di malam renta
Sang jelita ingin ia ikut berdansa
Mengenakan tuksedo bersepuh permata
Mari mereguk cawan cinta, kekasih.
Mari.
Cinta tak pernah buta.
Prada.
Malam minggu, 27 Februari 2010
Terombang-ambing
Jalan berliku yang dijadikannya berkah
Melepas diri dari apa yang ia sebut takdir
Benarkah?
Atau hanya sebuah teori?
Lihat punggungnya mengelupas
Bersusah payah tak menoleh ke belakang
Kakinya pun masih goyang
Berpijak pada perahu tak bertuan
Dan tanpa dayung
Kamar kost Prada
Jumat, 26 Februari 2010
Melepas diri dari apa yang ia sebut takdir
Benarkah?
Atau hanya sebuah teori?
Lihat punggungnya mengelupas
Bersusah payah tak menoleh ke belakang
Kakinya pun masih goyang
Berpijak pada perahu tak bertuan
Dan tanpa dayung
Kamar kost Prada
Jumat, 26 Februari 2010
Frame
Karang coklat berpori terbentang
Berlatar biru langit
Arak awan menggembung
Di sana berdiri ia
Dengan lekuk lesung pipi yang pamer tawa
Hembus angin menyapu rambut
dan ratusan cerita
Ingat akan matahari senja
dan aku yang berdiri di sana?
Aku
Dia
Pantai
dan Senja
Di balik sebuah lensa
Frame kisah yang tak terlupa
Ujong batee
18 Februari 2010
Berlatar biru langit
Arak awan menggembung
Di sana berdiri ia
Dengan lekuk lesung pipi yang pamer tawa
Hembus angin menyapu rambut
dan ratusan cerita
Ingat akan matahari senja
dan aku yang berdiri di sana?
Aku
Dia
Pantai
dan Senja
Di balik sebuah lensa
Frame kisah yang tak terlupa
Ujong batee
18 Februari 2010
Duniaku yang Lain
Ombak biru
Pantai bening sebening bayu
Tahukah engkau apa di dalamnya?
Adakah dunia?
Adakah secantik koral merah di akuarium raksasa?
Atau seelok gambar dalam kubus berlayar kaca?
Pasir putih
Sapuan menggelitik pinggir air
Memanggil-manggil sayup
Merayu-rayu manja
Selamlah ke duniaku, bujuknya
Angin surga
Plankton-plankton melayang bebas acuhkannya
Ikan kecil keperakan meliuk
kabur bergerombol melukis pola
rumput laut hijau bergoyang
padahal ombak masih sejenjang lutut
Jauh lagi di depan sana
Ombak hanya sejenjang dada
dan baru di dalam sana kulihat surga
Terumbu karang apik segala rupa
Ikan-ikan tropis segala warna
Clown fish
Angel Fish
Surgeon Fish
Parrot Fish
Ikan Napoleon
Ribuan lagi menemaniku di dalam sana
Rumput laut tetap tenang
Bintang laut hijau-biru
Kura-kura kecil melirik curiga
Dan, oh lihat,
belutpun malu-malu di balik bebatu
Duniaku yang lain
Dunia bawah serupa teras surga
Tiap kujelajahi,
Aku seakan lupa diri
Banda Aceh, 17 Februari 2010
Pantai bening sebening bayu
Tahukah engkau apa di dalamnya?
Adakah dunia?
Adakah secantik koral merah di akuarium raksasa?
Atau seelok gambar dalam kubus berlayar kaca?
Pasir putih
Sapuan menggelitik pinggir air
Memanggil-manggil sayup
Merayu-rayu manja
Selamlah ke duniaku, bujuknya
Angin surga
Plankton-plankton melayang bebas acuhkannya
Ikan kecil keperakan meliuk
kabur bergerombol melukis pola
rumput laut hijau bergoyang
padahal ombak masih sejenjang lutut
Jauh lagi di depan sana
Ombak hanya sejenjang dada
dan baru di dalam sana kulihat surga
Terumbu karang apik segala rupa
Ikan-ikan tropis segala warna
Clown fish
Angel Fish
Surgeon Fish
Parrot Fish
Ikan Napoleon
Ribuan lagi menemaniku di dalam sana
Rumput laut tetap tenang
Bintang laut hijau-biru
Kura-kura kecil melirik curiga
Dan, oh lihat,
belutpun malu-malu di balik bebatu
Duniaku yang lain
Dunia bawah serupa teras surga
Tiap kujelajahi,
Aku seakan lupa diri
Banda Aceh, 17 Februari 2010
Perangkap Jiwa
Dunia yang penuh imaji
Ukiran awannya terulur panjang sampai bumi
Tapi lihat itu kotak persegi
Entah mengapa jiwa itu terperangkap di sana
Hanya bisa melihat lewat lubang kunci
Berontak jiwanya minta bebas
Habis suaranya menjerit miris
Pelan-pelan memohon hujan turun
Biar lapuk itu kotak persegi
Pelan-pelan menanti petir datang
Biar hancur berkeping-keping penjara laknat itu
Perangai jagad duniawi
Biarkan jiwanya bebas
Meniti jembatan pelangi
Dan peri mungil mengintari
Menghantar ia berlari ke penghujung
Lihat! Sesosok anonim duduk bersila
Senyum lebar
Tangan terulur lembut
Siapa dia?
Ukiran awannya terulur panjang sampai bumi
Tapi lihat itu kotak persegi
Entah mengapa jiwa itu terperangkap di sana
Hanya bisa melihat lewat lubang kunci
Berontak jiwanya minta bebas
Habis suaranya menjerit miris
Pelan-pelan memohon hujan turun
Biar lapuk itu kotak persegi
Pelan-pelan menanti petir datang
Biar hancur berkeping-keping penjara laknat itu
Perangai jagad duniawi
Biarkan jiwanya bebas
Meniti jembatan pelangi
Dan peri mungil mengintari
Menghantar ia berlari ke penghujung
Lihat! Sesosok anonim duduk bersila
Senyum lebar
Tangan terulur lembut
Siapa dia?
Monday, February 15, 2010
Cukup!
Kenyataan itu membuatku terhenyak
Apa inginku selalu benar?
Kupasan2 pahit itu bergelayutan
menggelantung dlm memoriku yg sempit
Berebut mengalihkan satu-sama-lain
Sudah cukup!
Cukup untuk malam ini
Kita pilin saja benang2 baru berwarna perak itu
Benang yg membawa khayalku tenggelam
dalam galaksi baru, dan teluk bayu
Selamat malam, bintang
Jangan ikuti aq lagi
Aq lelah
Tetap mematunglah di sudut utara sana
Banda Aceh, 29 Desember 2009
Apa inginku selalu benar?
Kupasan2 pahit itu bergelayutan
menggelantung dlm memoriku yg sempit
Berebut mengalihkan satu-sama-lain
Sudah cukup!
Cukup untuk malam ini
Kita pilin saja benang2 baru berwarna perak itu
Benang yg membawa khayalku tenggelam
dalam galaksi baru, dan teluk bayu
Selamat malam, bintang
Jangan ikuti aq lagi
Aq lelah
Tetap mematunglah di sudut utara sana
Banda Aceh, 29 Desember 2009
Badai di Tahun Suram
Berjemur di bawah terik matahari
bak potongan kain kusam
menguras peluh yg sama byk dgn air mata
di tengah kegalauan dihenyakkan ujian bertubi-tubi
kupingnya berdenging2
meremas keras otak dgn tanya yg sama,
'Siapa yg berkenan mendengarkan??'
Ini cobaan
entah benar2 tahun yg suram?
Maha Penguasa,
berikan ia kekuatan
bak ombak yg menampar karang
sebegitupun jiwanya semakin kokoh
Badai ini terlalu kencang
pijakannya yg masih ranum jadi goyah
nyaris luluh lantak diterjangnya
keheningan tak buat gaungan itu berhenti berdenging
semakin lancang mencabik-cabik seolah menanti amukan
badai ini sedang diredam
Tak tampakkah kau,
aku sedang berdiri tegak menantangnya??
Banda Aceh, 26 Desember 2009
bak potongan kain kusam
menguras peluh yg sama byk dgn air mata
di tengah kegalauan dihenyakkan ujian bertubi-tubi
kupingnya berdenging2
meremas keras otak dgn tanya yg sama,
'Siapa yg berkenan mendengarkan??'
Ini cobaan
entah benar2 tahun yg suram?
Maha Penguasa,
berikan ia kekuatan
bak ombak yg menampar karang
sebegitupun jiwanya semakin kokoh
Badai ini terlalu kencang
pijakannya yg masih ranum jadi goyah
nyaris luluh lantak diterjangnya
keheningan tak buat gaungan itu berhenti berdenging
semakin lancang mencabik-cabik seolah menanti amukan
badai ini sedang diredam
Tak tampakkah kau,
aku sedang berdiri tegak menantangnya??
Banda Aceh, 26 Desember 2009
Kala Itu untuk Bunga
Kala itu
Raut tampan yg tak bisa disembunyikan
tidakpun oleh kumis tipis
diatas sunggingan manis sebuah senyum
disandangnya gagah arjuna
pujaan kaum hawa
Badan tegap dan otot kokoh
meluruhkan daya empunya mata2 lentik
sampai seluruh penghujung kota
tutur kata lembut
dengan totok aksen jawa
meresap hingga ke pilar jiwa
Buah pikirnya cerdas,
selegam dan setebal rambut
dengan kulit selangsat penghuni keraton
melengkapi tatap misterius
untuk membuai sang bunga
Kala itu
diukir belai manis madu
pada perkamen kertas
tertanda, untuk: Sang Bunga
Jari-jarinya bergerak lincah
membuncah perasaan bergelora
"Bunga, tiada yg menandingi indahnya,
tak pula senja"
Secarik kenangan sekitar 26 thn lalu, this poem is dedicated 2 my beloved mom & dad.
Banda Aceh, 22 November 2009.
Raut tampan yg tak bisa disembunyikan
tidakpun oleh kumis tipis
diatas sunggingan manis sebuah senyum
disandangnya gagah arjuna
pujaan kaum hawa
Badan tegap dan otot kokoh
meluruhkan daya empunya mata2 lentik
sampai seluruh penghujung kota
tutur kata lembut
dengan totok aksen jawa
meresap hingga ke pilar jiwa
Buah pikirnya cerdas,
selegam dan setebal rambut
dengan kulit selangsat penghuni keraton
melengkapi tatap misterius
untuk membuai sang bunga
Kala itu
diukir belai manis madu
pada perkamen kertas
tertanda, untuk: Sang Bunga
Jari-jarinya bergerak lincah
membuncah perasaan bergelora
"Bunga, tiada yg menandingi indahnya,
tak pula senja"
Secarik kenangan sekitar 26 thn lalu, this poem is dedicated 2 my beloved mom & dad.
Banda Aceh, 22 November 2009.
Kepala Suku
Kepala suku Apache berkutat dengan angin selatan
mustang hitam tegap terpacak di tepian jilat unggun
kerangka kayu yang teregang dengan kulit bison
menaungi peluh yg keruh
merebak asap pipanya di balik hawa dingin
selat-tanah genting bergolak diracau hewan buruan
20.000 tahun lalu, di tengah kejaran
saat bau tanah ini baru dihirup
Lihat helai puluhan bulu dari hiasan kepalanya
tanda kebesaran sang kepala suku
bertarung sengit melawan pemukim baru
kaum muka pucat, bisiknya
sepatu moccasin temali kulit berpilin manik itu basah menghentak
Diambilnya busur dan anak panah di tangan kanan
pisau menggantung di kiri
tomahawk dan senapan tergolek menggeram
Di luar padang prairie luas menghampar
berlatar arakan sang fajar
rerumputan berkilau kuning keemasan dihembus angin
ancaman menggelegak penuhi pelosok negri
pasukan prajurit berbaris dan bulu2 menjulang
perburuan dimulai
pertempuran menanti
Banda Aceh, 21 November 2009
mustang hitam tegap terpacak di tepian jilat unggun
kerangka kayu yang teregang dengan kulit bison
menaungi peluh yg keruh
merebak asap pipanya di balik hawa dingin
selat-tanah genting bergolak diracau hewan buruan
20.000 tahun lalu, di tengah kejaran
saat bau tanah ini baru dihirup
Lihat helai puluhan bulu dari hiasan kepalanya
tanda kebesaran sang kepala suku
bertarung sengit melawan pemukim baru
kaum muka pucat, bisiknya
sepatu moccasin temali kulit berpilin manik itu basah menghentak
Diambilnya busur dan anak panah di tangan kanan
pisau menggantung di kiri
tomahawk dan senapan tergolek menggeram
Di luar padang prairie luas menghampar
berlatar arakan sang fajar
rerumputan berkilau kuning keemasan dihembus angin
ancaman menggelegak penuhi pelosok negri
pasukan prajurit berbaris dan bulu2 menjulang
perburuan dimulai
pertempuran menanti
Banda Aceh, 21 November 2009
Bungkam Hingga Karam
Terus bungkam
teruslah berusaha hilangkan sekam
entah hujan itu datang esok atau tidak
hanya kita yang tahu
ke mana sekam itu akan dibuang
dan kapan sekam itu akan hilang
melebur dalam senja kala
di penghujung musim hujan
Bayangmu tampak samar
saat matahari tenggelam
dipeluk samudra raya
teruslah bungkam,
hingga segalanya karam
Banda Aceh, 19 November 2009
By me.
Respon terhadap Puisi Bungkam Dalam Sekam karya Abdul Razak MH. Pulo
teruslah berusaha hilangkan sekam
entah hujan itu datang esok atau tidak
hanya kita yang tahu
ke mana sekam itu akan dibuang
dan kapan sekam itu akan hilang
melebur dalam senja kala
di penghujung musim hujan
Bayangmu tampak samar
saat matahari tenggelam
dipeluk samudra raya
teruslah bungkam,
hingga segalanya karam
Banda Aceh, 19 November 2009
By me.
Respon terhadap Puisi Bungkam Dalam Sekam karya Abdul Razak MH. Pulo
Cinta yang terpancar dari mata...
Kata org, kita bs melihat cinta terpancar dr mata seseorang.
Benarkah?
Aq bisa melihat seseorang yg dalam tatapan matanya tersimpan cinta saat sedang memandangku.
Aq langsung bisa tahu, tanpa org itu mengatakannya, seberapapun besar/kecil rasa cinta itu.
Aq pasti tahu.
Dia takkan bisa menyembunyikannya.
Siapapun itu.
Tapi aq tak pernah melihat seseorang yg mata'a memancarkan cinta yg begitu dalam, selain ia.
Aq tak pernah melihat tatapan cinta yg begitu menghangatkan, selain ia.
Cuma ia yg mampu meneduhkan aq dalam tatapannya.
Dengan sorot matanya, aq tahu seberapa meluap dan berlebihnya rasa cinta itu.
Meskipun hanya mendengar suaranya atau memandangnya dari kejauhan, aq tahu.
Saat dia menangis, aq bs melihat cinta di mata'a.
Saat dia tertawa.
Saat dia dgn gembira bercerita.
Saat dia bangga dengan apapun yg kulakukan.
Bahkan saat dia marah, aq masih bisa melihat cinta di mata'a.
Dan saat kekecewaannya begitu besar kepadaku,
cinta itu masih ada.
Mengapa dia masih bs melihatku dgn cara itu, bahkan saat kebenciannya memuncak?
Pancaran cinta di mata'a tidak pernah surut.
Dia itulah ibuku......
Benarkah?
Aq bisa melihat seseorang yg dalam tatapan matanya tersimpan cinta saat sedang memandangku.
Aq langsung bisa tahu, tanpa org itu mengatakannya, seberapapun besar/kecil rasa cinta itu.
Aq pasti tahu.
Dia takkan bisa menyembunyikannya.
Siapapun itu.
Tapi aq tak pernah melihat seseorang yg mata'a memancarkan cinta yg begitu dalam, selain ia.
Aq tak pernah melihat tatapan cinta yg begitu menghangatkan, selain ia.
Cuma ia yg mampu meneduhkan aq dalam tatapannya.
Dengan sorot matanya, aq tahu seberapa meluap dan berlebihnya rasa cinta itu.
Meskipun hanya mendengar suaranya atau memandangnya dari kejauhan, aq tahu.
Saat dia menangis, aq bs melihat cinta di mata'a.
Saat dia tertawa.
Saat dia dgn gembira bercerita.
Saat dia bangga dengan apapun yg kulakukan.
Bahkan saat dia marah, aq masih bisa melihat cinta di mata'a.
Dan saat kekecewaannya begitu besar kepadaku,
cinta itu masih ada.
Mengapa dia masih bs melihatku dgn cara itu, bahkan saat kebenciannya memuncak?
Pancaran cinta di mata'a tidak pernah surut.
Dia itulah ibuku......
Monday, November 9, 2009
Oase dan Fatamorgana
Hati yg mencelos
Mata kecil yg berbinar dalam hampa waktu
Tangan mungil genggam jemari dalam aura perak
Sorot penuh tanya
Akan dibawa kemana aku di dunia?
Imagi yang kering
Tandus dalam peti penuh misteri
Sejak kapan ada?
Gumam menyentakkan alam bawah sadar
Lirihnya memanggil laiknya tiupan seruling
Di hampar padang pasir
Bagai oase pengobat dahaga...atau hanya fatamorgana?
Ocehnya menyeret ke dunia nyata
Apa yg kulakukan?
Kegetiran menyelubung tetes air yg terasa asin
Aku yg akan menuntunnya
Membuka mata melihat dunia
Kukenalkan pada cinta
Pada ombak-riak air di bawah jembatan
Dengan pendar keemasan cerminan lampion-lampion emas yang bertengger di atasnya
Pada ombak-riak air yang berlomba
Pada biru laut dengan sayup camar-desir angin-belaian pasir
Ia tak salah-tak pernah salah
Dunia tak bersalah-tak juga padanya
Senyum kulumnya menyilau mata
Pecahkan kesunyian
Dimana diriku-kesendirian yg menusuk
Silau cahaya mentari yang menerobos pepohonan
Lewat celah-celah ranting dedaunan
Dan kuntum menggantung lemah di tengah dahan
Seolah dunia setengah hilang-setengah berpaling
Dibalik kulit putih-halus dan ringkih
Cermin tiap diri-kehilafan yang terpatri
Kaulah hembusan angin hujan,
Membawa kembali jalan meniti surga
Aku yg akan menuntunnya
Membuka mata melihat dunia
Kukenalkan pada cinta
(inspired from a dream in one silent night)
Mata kecil yg berbinar dalam hampa waktu
Tangan mungil genggam jemari dalam aura perak
Sorot penuh tanya
Akan dibawa kemana aku di dunia?
Imagi yang kering
Tandus dalam peti penuh misteri
Sejak kapan ada?
Gumam menyentakkan alam bawah sadar
Lirihnya memanggil laiknya tiupan seruling
Di hampar padang pasir
Bagai oase pengobat dahaga...atau hanya fatamorgana?
Ocehnya menyeret ke dunia nyata
Apa yg kulakukan?
Kegetiran menyelubung tetes air yg terasa asin
Aku yg akan menuntunnya
Membuka mata melihat dunia
Kukenalkan pada cinta
Pada ombak-riak air di bawah jembatan
Dengan pendar keemasan cerminan lampion-lampion emas yang bertengger di atasnya
Pada ombak-riak air yang berlomba
Pada biru laut dengan sayup camar-desir angin-belaian pasir
Ia tak salah-tak pernah salah
Dunia tak bersalah-tak juga padanya
Senyum kulumnya menyilau mata
Pecahkan kesunyian
Dimana diriku-kesendirian yg menusuk
Silau cahaya mentari yang menerobos pepohonan
Lewat celah-celah ranting dedaunan
Dan kuntum menggantung lemah di tengah dahan
Seolah dunia setengah hilang-setengah berpaling
Dibalik kulit putih-halus dan ringkih
Cermin tiap diri-kehilafan yang terpatri
Kaulah hembusan angin hujan,
Membawa kembali jalan meniti surga
Aku yg akan menuntunnya
Membuka mata melihat dunia
Kukenalkan pada cinta
(inspired from a dream in one silent night)
Saturday, November 7, 2009
Beberapa hal...
Beberapa hal memang utk disimpan & dikenang...diambil sbg pelajaran...
Beberapa hal memang utk dihargai, dipertahankan...dibawa & dicintai sampai akhir hayat...
Beberapa hal memang utk dijalani, diselami...dan dibawa sbg pengalaman berharga utk berjuang dlm hidup...
Tapi beberapa hal...memang utk dihapus, dilupakan, dibuang & dikubur dalam2...sampai jejak'a hilang tak berbekas.
Bahkan beberapa hal memang layak terlupakan dengan sendirinya seiring jarum detik waktu.
Karena memang, beberapa hal tak bisa diubah dalam hidup. Ia akan terus berjalan.
Apakah mengalir seperti air dari lembah-sungai bebatuan-air terjun-hingga ke laut.
Apakah berhembus seperti angin, menelusup tiap celah kecil-sampai menyapu bersih pedesaan.
Apakah berkobar seperti api, menyalakan lilin di kegelapan-sampai membakar gundul hutan2.
Apakah membumi seperti tanah, tempat tumbuhnya pepohonan rimbun, sayur mayur-sampai tempat pertumpahan darah anak manusia.
Kitalah yg berhak memilih-hidup itu berjalan seperti apa... Apakah ia layak utk diperjuangkan karena hidup itu anugerah, atau hanya sbg khafilah penambah beban...?
Beberapa hal memang utk dihargai, dipertahankan...dibawa & dicintai sampai akhir hayat...
Beberapa hal memang utk dijalani, diselami...dan dibawa sbg pengalaman berharga utk berjuang dlm hidup...
Tapi beberapa hal...memang utk dihapus, dilupakan, dibuang & dikubur dalam2...sampai jejak'a hilang tak berbekas.
Bahkan beberapa hal memang layak terlupakan dengan sendirinya seiring jarum detik waktu.
Karena memang, beberapa hal tak bisa diubah dalam hidup. Ia akan terus berjalan.
Apakah mengalir seperti air dari lembah-sungai bebatuan-air terjun-hingga ke laut.
Apakah berhembus seperti angin, menelusup tiap celah kecil-sampai menyapu bersih pedesaan.
Apakah berkobar seperti api, menyalakan lilin di kegelapan-sampai membakar gundul hutan2.
Apakah membumi seperti tanah, tempat tumbuhnya pepohonan rimbun, sayur mayur-sampai tempat pertumpahan darah anak manusia.
Kitalah yg berhak memilih-hidup itu berjalan seperti apa... Apakah ia layak utk diperjuangkan karena hidup itu anugerah, atau hanya sbg khafilah penambah beban...?
Tuesday, October 27, 2009
Sempurna dalam Ketidaksempurnaan
Bimbang melamun haru biru menghantar hembus malam yang diam
Hatiku tergoda
Tersenyum
Teriak
Bisik lirih sang bulan sabit di kawalan teduh awan
Menutup bintang, kini tampak hanya secarik cemerlang di sudut mata
Selaksa rindu kalbupun tergoda maya
Indah, tak terlukiskan gejolak jiwa
Manis... Apakah ia?
Ia kudamba?
Pinggir ruang rindu tergelitik
saat senyumnya meluruhkan jiwa
Pandang matanya membahana mentari
Apakah ini?
Apa yg kurasa?
Tentram
Nyaman
Dekat dengan-Nya
Bila ia suatu ciptaan,
ialah anugerah
Sempurna dalam ketidaksempurnaan
Ikhlas dalam ketidakikhlasan
Ia Berkah
(catatan kala itu-suatu hari yg berbunga-bunga)
Hatiku tergoda
Tersenyum
Teriak
Bisik lirih sang bulan sabit di kawalan teduh awan
Menutup bintang, kini tampak hanya secarik cemerlang di sudut mata
Selaksa rindu kalbupun tergoda maya
Indah, tak terlukiskan gejolak jiwa
Manis... Apakah ia?
Ia kudamba?
Pinggir ruang rindu tergelitik
saat senyumnya meluruhkan jiwa
Pandang matanya membahana mentari
Apakah ini?
Apa yg kurasa?
Tentram
Nyaman
Dekat dengan-Nya
Bila ia suatu ciptaan,
ialah anugerah
Sempurna dalam ketidaksempurnaan
Ikhlas dalam ketidakikhlasan
Ia Berkah
(catatan kala itu-suatu hari yg berbunga-bunga)
Wednesday, October 21, 2009
Rest In Peace
Biarkanlah potongan kenangan itu lenyap
seiring tiupan deras angin di bawah tadahan hujan
dan petir yang menjilat-jilat
Tenang dengan ketiadaannya
Mengheningkan cipta dengan kepergiannya
Terlupa dengan abu jasadnya
Biar ia tenang di alam sana
Hempasan abu-air tanah yang mengalir
Tenang dengan ketiadaannya
Mengheningkan cipta dengan kepergiannya
Terlupa dengan abu jasadnya
Biar ia tenang di alam sana
Hempasan abu-air tanah yang mengalir
berkelok dalam riak liku ruas
semoga ia menemukan jalannya
Tenang di alam sana
Tanpa api-angin-pecahan kaca lainnya
Friday, October 16, 2009.
Tenang di alam sana
Tanpa api-angin-pecahan kaca lainnya
Friday, October 16, 2009.
Langganan:
Komentar (Atom)
