"Air laut naik...!!
Lari...!!"
Pekik membahana
Sang pujangga menjerit putus asa
Tirai dipancang
Gendang ditabuh terlantung-lantung
Napas basahnya memburu
Mengundang perangah
Wajah-wajah pilu penasaran
Dan tangis bercucuran
Di sudut gelap penonton sontak terdengar
Sayup lamat-lamat kencang
Pemuda berambut legam
Memaki-maki
Tertawa jahat seperti kesetanan
Mengejek
Mengundang gelak segerombol kacung
berotak udang
"Ada tsunami...!!! Lari...!!!"
Ejeknya semakin giat
Tawanya semakin pekat
Menirukan suara nasar pencatuk belikat
Pertunjukan yang sungguh dahsyat
Pujangga bingung
Ini tanah tempat lahir mereka
Bahasa bumi mereka
Apa semua petaka,
hanyalah gurauan hina?
Lalu siapa yang salah?
(mengingat peristiwa memprihatinkan, saat menonton sebuah konser lelang lagu Aceh mengenang Tsunami)
Putty W. (masih) mahasiswi FK Unsyiah '06.
Prada. Rabu, 3 Maret 2010.
Selasa, 09 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

hahaha..saya teringat dengan apa yang kamu ceritakan. atas kejadian pada acara penggalangan dana malam itu..sajak yang kontekstual sekali ini..thank ....singgah lah ke rumah maya saya sekali waktu
BalasHapusatas kejadian dalam malam penggalangan dana itu, saya sebagai inlander, sangat malu kepada indatu kami (nenek moyang )...semangat terus dalam dunia puisi